Sabtu, 08 Agustus 2009

makna kecemasan

“Hidup ini memang susah tapi tidak ada yang tidak mungkin”
(Napoleon Banaparte)

Mari kita memaknai duka dan derita yang menimpa bangsa ini dengan rasa empati yang dalam, bahwa sebuah peristiwa yang telah terjadi sebagai penegas Kebesaran dan Mahakuasanya Tuhan. Bencana tsunami, letusan gunung merapi, musibah tanah longsor, banjir Bandang, kecelakaan lalu lintas, kebakaran, wabah penyakit epidemik yang menimpa ternak dan manusia, gagalnya panen, berjangkitnya polio dan busung lapar, semuanya menjadi penegas bahwa hukum Tuhan benar-benar terjadi tanpa ada satu kekuatan pun yang mampu mencegahnya. Memaknai derita adalah bentuk apresiasi-reflektif kita terhadap fenomena hidup. Bagaimanapun manusia adalah mahluk lemah yang tidak layak membusungkan dada, menyombongkan diri, sebab yang berhak untuk sombong hanyalah Yang Mahakuat.
Kematian adalah sebuah keniscayaan untuk setiap mahluk yang hidup. Sakit, kehilangan dan mati adalah bentuk derita manusia sebagai mahluk naïf yang pasti akan mati. Bahkan, Nabi Isa as. pernah berkomentar “betapa hidup ini sia-sia, tak peduli ia orang baik atau orang jahat, pendosa atau ahli ibadah, tak terkecuali mereka yang kaya dan miskin, yang kuat dan lemah, sang penguasa dan yang tertindas, rakyat biasa atau pemerintah, semua akan mati”. Hidup memang akan sia-sia jika hidup sekadar untuk hidup. Beliau menambahkan, “bagi mereka yang memaknai hidupnya sebagai rangkaian ibadah kepada Tuhan, hidupnya tidak akan sia-sia”. Dengan keyakinan hidup tidak sekadar menghabiskan masa di bumi, akan tetapi tujuan hidup sesungguhnya adalah setelah kehidupan ini, kehidupan yang kekal.
Manusia adalah mahluk potensial untuk terjangkiti penyakit, ia tidak bebal dengan rasa sakit. Tentu saja, sehat, kaya, senang (dalam pengertian imanen) adalah dambaan setiap manusia dan wujud kebahagiaan manusia yang dicapainya melalui pemaknaan hidup yang tepat.
Jika demikian, otoritas manusia terletak pada cara dan usahanya memaknai hidup. Rasa sedih dan rasa senang sesungguhnya lahir dari sensasi manusia terhadap sesuatu (di luar dirinya) yang menimpanya. Artinya, perasaan sakit dan senang, meskipun tidak dapat diukur secara matematis, namun diterima dan dirasakan secara otonom oleh individu, tentunya dengan sensasi yang berbeda-beda.
Ada orang yang menganggap sakit merupakan sensasi fisik semata, sehingga tidak mempengaruhi kondisi emosi dan kematangan jiwanya. Sedangkan sebagian yang lain –bahkan sangat dominan- hampir tidak mampu memisahkan sensasi fisik dengan kondisi emosi, sehingga yang terjadi adalah munculnya sikap: menyesali, meratapi, dan mendramatisir keadaan, sehingga kondisi jiwa juga ikut tidak stabil, emosional-tempramental.
#
Di antara harapan dan kenyataan ada kecemasan, kegelisahan. Meskipun demikian, manusia mutlak memiliki harapan sebagai obsesi, tujuan dan demi untuk meraih makna hidup. Tetapi, pengalaman manusia pun mengajarkan bahwa harapan kerapkali tidak mampu terwujud menjadi sebuah kenyataan.
Kecemasan merupakan salah satu emosi yang paling menimbulkan stress yang dirasakan oleh banyak orang. Kadang-kadang kecemasan juga disebut dengan ketakutan atau perasaan gugup.
Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan pada saat-saat tertentu, dan dengan tingkat yang berbeda-beda. hal tersebut mungkin saja terjadi karena individu merasa tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi hal yang mungkin menimpanya dikemudian hari. Dalam teori Behavior dijelaskan bahwa kecemasan muncul melalui clasical conditioning, artinya seseorang mengembangkan reaksi kecemasan terhadap hal-hal yang telah pernah dialami sebelumnya dan reaksi-reaksi yang telah dipelajari dari pengalamannya (Bellack & Hersen, 1988:284).
Taylor (1953) dalam Tailor Manifest Anxiety Scale (TMAS) mengemukakan bahwa kecemasan merupakan suatu perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu ini pada umumnya tidak menyenangkan dan menimbulkan atau disertai disertasi perubahan fisiologis (misal gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat) dan psikologis (misal panik, tegang, bingung, tidak bisa berkonsentrasi).
Carlson (1992:201) menjelaskan kecemasan sebagai rasa takut dan antisipasi terhadap nasib buruk dimasa yang akan datang, kecemasan ini memiliki bayangan bahwa ada bahaya yang mengancam dalam suatu aktivitas dan obyek, yang jika seseorang melihat gejala itu maka ia akan merasa cemas. Kecemasan merupakan respon emosional yang tidak menentu terhadap suatu obyek yang tidak jelas.
Menurut Massion, Warshaw, & Keller (1993) (dalam Weiten & Llyod, 1999:437) Kecemasan merupakan gangguan yang ditandai dengan perasaan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi secara berlebihan.
Kecemasan merupakan respon emosional yang tidak menentu terhadap suatu obyek yang tidak jelas (Stuard and sudeen, 1998: 175).
Menurut (Darajat, 1996:27) kecemasan adalah suatu keadaan emosi yang sedang mengalami tekanan perasaan (Frustasi) atau pertentangan batin (konflik). Manakala seseorang sedang mengalami cemas karena perasaan atau konflik, maka perasaan itu akan muncul melalui berbagai bentuk emosi yang disadari dan yang tidak disadari. Segi yang disadari dari cemas tampak dalam segi seperti rasa takut, terkejut, ngeri, rasa lemah, rasa berdosa, rasa terancam, dsb. Sementara segi yang tanpa disadari dari cemas tampak dalam keadaan individu yang merasakan takut tanpa mengetahui faktor-faktor yang mendorongnya pada keadaan itu.
Kecemasan dapat diartikan sebagai energi yang tidak dapat diukur, namun dapat dilihat secara tidak langsung melalui tindakan individu tersebut, misalnya berkeringat, sering buang air besar, kulit lembab, nafsu makan menurun, tekanan darah, nadi dan pernafasan meningkat (Lang, 1997 dalam Goldstein & Krasner,1988:284).
Atkinson (1990:6) kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan dan ditandai dengan dengan istilah-istilah seperti kehawatiran, keprihatinan dan rasa takut yang kadang-kadang kita alami dalam tingkat yang berbeda.
Kecemasan menurut Yoseph (dalam Sobur; 2003,345) adalah bentuk serta intensitas dari perasaan orang yang terancam keselamatannya, sedangkan orang yang terancam tersebut tidak mengetahui langkah dan cara yang harus diambil untuk menyelamatkan dirinya.
Sedangkan menurut (Sobur, 2003:345) Kecemasan adalah ketakutan yang tidak nyata, suatu perasaan terancam sebagai tanggapan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak mengancam.
Kartono (1989,127) menjelaskan bahwa Kecemasan adalah rasa ragu, masygul, gentar atau tidak berani terhadap hal-hal yang tidak konkrit, yang riil, yang semu atau khayali, hal-hal yang tidak jelas.
Kecemasan juga memiliki orientasi di masa depan. Seseorang mungkin memiliki bayangan bahwa ada bahaya yang mengancam dalam suatu obyek. Ia melihat gejala itu ada, sehingga ia merasa cemas. Kecemasan ini dibutuhkan agar individu dapat mempersiapkan diri menghadapi peristiwa buruk yang mungkin akan terjadi. Menurut Branca, 1964 (dalam John & Pervin, 406:2001).
Cluster (dalam Douglas, 1990:107) mengungkapkan bahwa kecemasan merupakan reaksi individu yang tertekan dalam menghadapi kesulitan sebelum kesulitan itu terjadi. Seperti yang diungkapkan dalam kamus psikologi oleh Chaplin (1989,32) bahwa kecemasan adalah perasaan campuran berisikan ketakutan dan kekhawatiran mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut.
Greenberger & Padesky (2004,209) kecemasan merupakan periode singkat perasaan gugup atau takut yang dialami seseorang ketika dihadapkan pada pengalaman yang sulit dalam kehidupan.
Menurut (Warga, 1983:110) kecemasan merupakan ketakutan terpusat pada sebuah object seperti emosi yang menimbulkan suatu reaksi seperti kegelisahan, ketakutan yang ditandai dengan tekanan darah, jantung yang semakin meningkat dsb. Yang mana hal ini merupakan antisipasi emosi tindakan sebagai alat penekan.
Dari beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah suatu perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disertai disertasi perubahan fisiologis (misal gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat) dan psikologis (misal panik, tegang, bingung, tidak bisa berkonsentrasi).

Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan tersebut akan menimbulkan kekecewaan, penyesalan. Tidak mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkannya. Mendapatkan dirinya pada kondisi yang tak terduga, tak diharapkannya. Kenyataan inilah yang terkadang menyudutkan manusia, mengutuk nasib dan kehidupannya.
Jika hidup adalah episode nasib yang tak terduga, bagaimana manusia menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang tak terduga itu? Jika tidak semua harapan mampu terwujud menjadi kenyataan, apakah manusia mesti memilah-milah untuk menetapkan harapan? Ataukah manusia salah dalam menerjemahkan kenyataan yang dihadapinya, sehingga mereka menderita sakit, kalah, stress? Ataukah manusia tidak mampu mengelola dengan baik kenyataan hidupnya, sehingga ia tidak mampu menemukan makna di baliknya?
Kecemasan dan kegelisahan adalah kondisi ketidakstabilan emosi yang disebabkan oleh ketakutan menghadapi kenyataan. Kecemasan dan kegelisahan berawal dari munculnya keinginan-keinginan artifisial. Pada kondisi kecemasan dan kegelisahan yang akut, justru terkadang tidak akan mengantarkan manusia ke kenyataan yang ditakutkan ataupun yang kenyataan yang diharapkannya. Kecemasan dan kegelisahan yang berlebihan akan mematikan kreativitas, membunuh semangat dan akhirnya perlahan-lahan akan merampas kehidupan manusia.
Kecemasan dan kegelisahan yang berlebihan juga akan melahirkan sikap reaktif yang tak terkontrol. Dengan emosionil seseorang akan menempuh segala cara untuk mewujudkan keinginannya. Tak lagi memedulikan halal-haram, baik-buruk, layak atau tidak, demi menuntaskan rasa cemas dan gelisahnya. Hidup menjadi serba hitam-putih. Semua dimensi hidup menjadi ajang kompetisi menang-kalah. Lahirlah strategi dan manuver untuk menaklukkan lawan, dengan satu tujuan: menang, berkuasa dan senang. Mereka yang menang, akan tenggelam dalam euphoria dan akan segera terjangkiti virus post power syndrome. Mereka yang kalah, kembali menyusun strategi, mengelola isu, merekayasa konflik untuk menjatuhkan lawan dan merebut kekuasaan. Begitulah mata rantai kehidupan para pengejar sensasi hidup.
Kalau begitu, apakah lebih baik jika kecemasan dan kegelisahan itu dimatikan? Kecemasan dan kegelisahan pada tingkat sewajarnya justru akan meningkatkan kewaspadaan dan merangsang kreativitas. Kecemasan dan kegelisahan justru akan menyadarkan manusia, bahwa semua kemungkinan bisa saja terjadi.
Kegagalan dan kesuksesan adalah kemungkinan. Seperti dua sisi mata uang logam. Menghadapi kegagalan dan kesuksesan adalah resiko hidup, karena hidup adalah kumpulan dari kemungkinan-kemungkinan. Akan tetapi, pada tingkat yang subtansial, kecemasan dan kegelisahan menjadi tidak perlu. Sebab, kenyataan selalu dibuntuti oleh kemungkinan-kemungkinan, dan kenyataan tidak perlu menunggu atau waktu yang tepat. Kenyataan hidup secara terus menerus berjalinkelindan, sustainable. Karena itu, kenyataan yang sebenarnya adalah kesadaran kita serta tindakan yang kita lakukan saat ini untuk mewujudkan mimpi sembari mempersiapkan kemungkinan gagalnya usaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar